GORONTALO — Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI mencatat posisi rupiah pada Senin (11/5) sudah berada di Rp17.415, melemah 40 poin dari Jumat pekan lalu. Pasar membuka perdagangan hari ini dengan tekanan tambahan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah. "Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460," ujarnya dalam keterangan yang dikutip Selasa (12/5).
Bank Indonesia merilis data IKK April 2026 di level 123,0, naik tipis dari 122,9 pada Maret. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih berada di zona optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.
Kenaikan ini terutama didorong oleh perbaikan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik dari 115,4 menjadi 116,5. BI menilai persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru turun tipis dari 130,4 menjadi 129,6. Ini mengindikasikan optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan sedikit lebih moderat dibandingkan Maret 2026.
Di sisi eksternal, Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS "sama sekali tidak dapat diterima". Pernyataan ini langsung meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, mendorong permintaan aset safe haven seperti dolar AS.
Kondisi ini menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Data Jisdor BI pada Senin (11/5) menunjukkan kurs rupiah sudah berada di Rp17.415, dan tekanan berlanjut di sesi awal perdagangan Selasa.
Ibrahim Assuaibi menambahkan sentimen domestik yang positif dari data IKK belum cukup kuat melawan tekanan eksternal. Pasar masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait negosiasi AS-Iran serta data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.