GORONTALO — Nama Ayuba Wartabone kini resmi menghiasi salah satu ruas jalan di pusat Kota Gorontalo. Peresmian ini melengkapi deretan penamaan jalan sebelumnya, seperti Jalan B.J. Habibie dan dr. Zainal Umar Sidiki.
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar seremonial penggantian plang. Menurutnya, ini adalah komitmen pemerintah daerah dalam merawat sejarah dan menghargai rekam jejak perjuangan para putra terbaik bangsa asal Gorontalo.
"Ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa, dedikasi, serta perjuangan para tokoh terdahulu yang telah memberikan sumbangsih bagi kemajuan masyarakat Gorontalo," ujar Adhan dalam sambutannya di hadapan jajaran Forkopimda dan tokoh masyarakat.
Dalam suasana yang penuh keakraban, Adhan sempat melontarkan kelakar yang memicu tawa para undangan. Ia menyentil minimnya ruas jalan utama yang tersisa di pusat kota karena sebagian besar sudah menggunakan nama para mantan wali kota pendahulu.
"Tinggal saya dengan Pak Wakil, betul, karena masih hidup, jadi belum," seloroh Adhan.
Meski begitu, Adhan mengaku sudah mengantongi rencana besar untuk merombak nama-nama jalan di Kota Gorontalo yang saat ini masih menggunakan nama buah maupun nama daerah lain. Jalan Palma, Jalan Jeruk, Jalan Manado, hingga Jalan Irian masuk dalam daftar yang akan diganti.
"Di mana lagi? Jalan Irian di Gorontalo? Ini rencana saya ganti semua, nanti kita akan cari tokoh-tokoh yang insyaallah bisa kita cantumkan nama-nama mereka di jalan-jalan tersebut," tegas Adhan.
Apresiasi mendalam datang dari keluarga besar almarhum Ayuba Wartabone. Roland Niode, cucu tertua almarhum, hadir langsung memberikan kesaksian dengan nada bicara yang bergetar menahan haru.
"Alhamdulillah hari ini saya bisa hadir untuk mewakili keluarga opa saya, Ayuba Wartabone. Saya adalah cucu tertua, alhamdulillah masih hadir pada saat peresmian jalan. Untuk itu, terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Walikota atas penamaan jalan Ayuba Wartabone," tutur Roland penuh syukur.
Di hadapan para undangan, Roland kemudian mengisahkan kembali fragmen sejarah kepahlawanan sang kakek di Kota Makassar. Ayuba Wartabone mendeklarasikan 'Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja' pada 23 Mei 1947, saat negara dikacaukan oleh kebijakan kolonial Belanda di bawah Van Mook.
"Ayuba pada saat itu, di hadapan para kolonial, memberanikan diri untuk mendeklarasikan 'Sekali ke Jogja, tetap ke Jogja'. Semangat ini menjadi impian juga dari adiknya, Nani Wartabone," tambah Roland.
Adhan Dambea mengaku sempat terkejut dan kagum setelah membaca literatur sejarah mengenai sosok Ayuba Wartabone yang diserahkan langsung ke kediamannya sebelum peresmian. Ke depan, Pemkot Gorontalo berencana melanjutkan program penamaan jalan dengan nama-nama tokoh daerah yang berjasa bagi bangsa.