GORONTALO — Keputusan Jasin Mohammad mengundurkan diri dari tim pemenangan Aldi Uloli langsung mengubah peta persaingan menjelang Musyawarah Provinsi (Musprov) Kadin Gorontalo. Selama ini, ia dikenal sebagai motor penggerak yang membangun komunikasi antar pengusaha, menjalin hubungan dengan kepala daerah, hingga memperkuat dukungan lintas sektor untuk Aldi.
Jasin mengaku keputusan itu lahir dari keprihatinan terhadap kondisi internal Kadin yang kian terbelah. Polemik pelaksanaan Musprov dinilainya telah memicu perpecahan yang berpotensi merusak citra organisasi pengusaha di daerah.
"Saya mundur dari Ketua Tim Pemenangan Aldi karena prihatin terhadap kondisi Kadin Gorontalo. Saya memilih melepaskan seluruh kepentingan terlebih dahulu untuk menyelamatkan Kadin ke depan," ujar Jasin dalam keterangannya.
Alih-alih tetap berada di kubu tertentu, Jasin kini memosisikan diri sebagai jembatan penghubung. Ia menilai seluruh unsur organisasi, mulai dari pengurus kabupaten/kota, panitia Musprov, hingga kelompok kandidat, perlu duduk bersama mencari jalan keluar.
"Saya ingin menyatukan kembali semua komponen Kadin yang selama ini mulai terkotak-kotak, baik kepengurusan, kepanitiaan, maupun para pendukung kandidat," katanya.
Dalam waktu dekat, Jasin berencana membawa unsur Organizing Committee (OC) dan Steering Committee (SC) menemui Kadin Indonesia di Jakarta. Langkah ini diambil untuk mendapatkan kejelasan soal polemik Musprov yang hingga kini belum menemukan titik terang.
"Supaya ada kepastian arah penyelesaian persoalan Kadin Gorontalo. Karena sampai sekarang belum ada solusi yang benar-benar jelas," tegasnya.
Meski langkahnya dinilai sebagai strategi politik, Jasin membantah akan maju sebagai calon Ketua Kadin Gorontalo. Ia menegaskan fokus utamanya saat ini adalah menyelamatkan organisasi dan mengembalikan soliditas internal.
"Saya belum berpikir ke arah itu. Fokus utama saya sekarang bagaimana Kadin Gorontalo bisa diselamatkan dan kembali solid," ujarnya.
Di internal Kadin, nama Jasin memang dikenal sebagai figur yang diterima lintas kelompok. Sejumlah pengurus menilai keputusannya menanggalkan kepentingan politik organisasi menjadi langkah penting untuk meredam konflik dan membuka ruang rekonsiliasi.