KOTA GORONTALO — Idah Syahidah menekankan bahwa era digital telah mengaburkan batas antara penyiar profesional dan pembuat konten amatir. Menurutnya, setiap orang kini bisa bersiaran langsung, namun tetap harus berada dalam koridor aturan dan etika penyiaran.
“Sekarang semua orang bisa menjadi penyiar dan membuat siaran langsung. Tetapi tetap ada koridor yang harus dipatuhi agar informasi yang disampaikan tetap sehat dan bertanggung jawab,” ujar Idah di hadapan anggota Komisi I DPRD Gorontalo Ramdan Liputo, Kepala RRI Abdul Haris Talamati, serta jajaran KPID yang dipimpin Jitro Paputungan.
Idah menilai peran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) kian krusial dalam mengawasi konten siaran di daerah. Lembaga ini, kata dia, menjadi garda depan untuk menangkal penyebaran hoaks yang bisa memicu keresahan dan perpecahan di masyarakat.
“Masyarakat membutuhkan informasi yang benar dan terpercaya agar tidak mudah terpengaruh berita palsu,” tambahnya. Ia meminta lembaga penyiaran menjaga profesionalisme dalam setiap tayangan yang disiarkan ke publik.
Dalam kesempatan yang sama, Wagub mendorong lembaga penyiaran untuk memaksimalkan penayangan konten lokal. Menurutnya, konten bermuatan budaya dan potensi daerah memiliki nilai strategis dalam memperkenalkan Gorontalo ke khalayak luas.
Idah juga mengajak media massa untuk turut menyukseskan promosi Pekan Nasional Tani dan Nelayan (PENAS) ke-XVII yang akan berlangsung di Gorontalo pada 20–26 Juni 2026 mendatang. Ia berharap media menyiarkan berbagai kesiapan daerah sebagai tuan rumah, mulai dari lokasi kegiatan, UMKM, homestay, hingga potensi wisata dan budaya.
“Promosi melalui media sangat penting untuk memperkenalkan Gorontalo kepada masyarakat luar daerah sekaligus menyukseskan pelaksanaan PENAS nanti,” tutupnya.