GORONTALO — Momen Idul Adha identik dengan hidangan daging sapi atau kambing yang diolah menjadi gulai, rendang, hingga sate. Namun, konsumsi berlebihan, terutama yang dicampur santan kental, bisa berdampak buruk bagi tubuh dalam waktu singkat.
Pemerintah daerah melalui dinas kesehatan mengimbau warga untuk tetap menerapkan pola makan seimbang. Imbauan ini menyasar kebiasaan tahunan di Gorontalo di mana setiap keluarga menyajikan makanan dalam porsi besar untuk menjamu kerabat dan tamu yang datang bersilaturahmi.
Kandungan lemak jenuh pada santan dan daging merah, jika dikonsumsi berlebihan dalam waktu singkat, dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL). Hipertensi dan nyeri ulu hati juga kerap dikeluhkan warga usai Lebaran atau Idul Adha karena pola makan yang berubah drastis.
“Bukan berarti tidak boleh makan sama sekali, tapi kontrol porsinya. Satu hari cukup satu jenis olahan daging, imbangi dengan sayur dan buah,” demikian pesan dari tenaga kesehatan di Puskesmas setempat.
Beberapa langkah sederhana bisa diterapkan. Pertama, buang lemak yang tampak pada daging sebelum dimasak. Kedua, pilih metode memasak seperti panggang atau rebus ketimbang menggoreng dengan minyak banyak. Ketiga, perbanyak minum air putih dan konsumsi serat dari sayuran.
Keluhan seperti perut kembung, mual, hingga diare sering muncul jika sistem pencernaan kaget menerima asupan lemak tinggi sekaligus. Warga dengan riwayat penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi disarankan lebih ketat memilih makanan.
Imbauan ini bukan untuk mengurangi semarak Idul Adha, melainkan menjaga agar ibadah dan silaturahmi tidak terganggu masalah kesehatan. Dinkes juga mengingatkan warga untuk tetap aktif bergerak meski sedang libur lebaran haji.