GORONTALO UTARA — Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kecamatan Biau sejak pukul 15.30 WITA hingga 17.20 WITA pada Selasa (26/5/2026) menyebabkan lima desa di kawasan itu kebanjiran. Ketinggian air di permukiman warga bervariasi antara 100 sentimeter hingga 250 sentimeter, berdasarkan laporan Pusdalops PB BPBD Provinsi Gorontalo.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Tahir Laendeng, mengonfirmasi bahwa banjir telah berangsur surut, namun meninggalkan material lumpur dan kayu di rumah-rumah warga serta jalan lingkungan. Dalam video yang beredar di media sosial, arus banjir bercampur lumpur terlihat menghantam rumah-rumah warga dan menghanyutkan sejumlah barang serta perkakas milik warga.
Desa Bualo Paling Parah, 132 Rumah Terendam
Berdasarkan data BPBD, Desa Bualo menjadi wilayah dengan jumlah rumah terdampak terbanyak, yakni 132 unit. Disusul Desa Biau sebanyak 122 unit, Desa Didingga 115 unit, Desa Omuto 85 unit, dan Desa Luhuto sebanyak 75 unit rumah. Total rumah terdampak mencapai 529 unit yang dihuni oleh 529 kepala keluarga.
Bupati Menginap di Lokasi Saat Malam Takbiran
Pemerintah daerah langsung bergerak cepat merespons bencana ini. Bupati Gorontalo Utara turun ke lokasi dan memilih menginap di lapangan tepat pada malam takbiran Iduladha. Langkah itu diambil untuk memastikan pembangunan dapur umum berjalan lancar dan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi.
Fakta Singkat Banjir Gorontalo Utara
- Lokasi: Lima desa di Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara
- Ketinggian air: 1 meter hingga 2,5 meter di dalam rumah warga
- Jumlah terdampak: 529 kepala keluarga dengan 529 unit rumah
- Desa terdampak: Bualo (132 rumah), Biau (122), Didingga (115), Omuto (85), Luhuto (75)
- Tim penanganan: BPBD, Dinas Sosial, TNI/Polri, Tagana, Balai Wilayah Sungai Sulawesi II
Tim Gabungan Bersihkan Material Banjir
BPBD Provinsi Gorontalo berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Gorontalo Utara untuk penanganan bencana, termasuk proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar. Material kayu dan lumpur yang masih menumpuk di permukiman menjadi prioritas pembersihan agar warga bisa kembali beraktivitas. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Sosial, TNI/Polri, Tagana, hingga Balai Wilayah Sungai Sulawesi II bersinergi di lapangan untuk mempercepat pemulihan.