GORONTALO — Ketahanan pangan tidak hanya soal beras di gudang. Di Jawa Timur, BULOG membuktikan bahwa negara bisa hadir saat petani membutuhkan kepastian pasar. Total gabah yang terserap mencapai 884.559 ton, melampaui ekspektasi di tengah tantangan stabilitas harga.
Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu A, menyebut capaian ini bukan hasil instan. Persiapan sudah dilakukan sejak awal tahun, mulai dari koordinasi dengan dinas terkait hingga kesiapan Tim Jemput Pangan BULOG.
"Mulai koordinasi dengan dinas terkait, kesiapan Tim Jemput Pangan BULOG, dukungan anggaran pembelian Gabah Kering Panen (GKP), koordinasi dengan TNI-Polri, penyuluh pertanian, hingga kesiapan mitra pengolahan," ujar Langgeng, dikutip dari laman Kominfo Jawa Timur.
Target Terpenuhi, BULOG Tetap Beli Gabah Petani
Pekerjaan BULOG tidak berhenti setelah target terpenuhi. Langgeng menegaskan, pihaknya tetap akan menyerap gabah petani meski angka tahunan sudah terlampaui. Langkah ini untuk menjaga agar harga di tingkat petani tidak jatuh.
"Walaupun sudah melampaui target, kami tetap akan menyerap gabah petani. Ini bentuk komitmen BULOG untuk menjaga agar harga gabah di tingkat petani tidak jatuh dan tetap memberikan keuntungan bagi mereka," tegasnya.
Keberlanjutan serapan ini penting. Sebab, peningkatan produksi tanpa kepastian pasar bisa menjadi masalah baru bagi petani. BULOG menjadi jembatan antara hasil panen dan kebutuhan masyarakat.
Jagung Juga Diserap, Capai 50 Ribu Ton
Tak hanya beras, BULOG Jatim juga memperkuat serapan komoditas lain. Hingga kini, realisasi penyerapan jagung pipil kering (JPK) mencapai 50.727 ton, atau sekitar 50,73 persen dari target.
BULOG optimistis angka itu akan terus bertambah seiring musim panen di sejumlah wilayah. Langkah ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan butuh pendekatan luas — tidak sekadar stok tersedia, tapi juga melindungi produsen pangan.
Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah provinsi, kabupaten/kota, Dinas Pertanian, penyuluh, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas disebut berperan besar dalam kelancaran proses ini.
"Apresiasi setinggi-tingginya kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah bekerja mengamankan hasil panen petani," kata Langgeng.
Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, punya posisi strategis. Keberhasilan menyerap hasil panen petani menjadi bagian dari upaya menjaga dua kepentingan sekaligus: kesejahteraan petani dan kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang terjangkau. Pada akhirnya, ketahanan pangan adalah soal kepercayaan — bahwa hasil kerja petani punya tempat dalam sistem pangan nasional.