GORONTALO — Empat penelitian yang lolos seleksi ketat itu mencakup manajemen risiko proyek, optimalisasi logistik, penguatan rantai pasok material, hingga pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) untuk menerapkan budaya kerja 5S. Semua riset diangkat dari persoalan nyata di lapangan, bukan sekadar teori.
Belajar dari Medan Berat Sitinjau Lauik
Salah satu riset yang paling menarik perhatian adalah studi kasus proyek Flyover Sitinjau Lauik. Ruas jalan di koridor Padang–Solok ini terkenal dengan medannya yang ekstrem: tanjakan curam, tikungan tajam, dan risiko kecelakaan tinggi. Dalam risetnya, Hutama Karya membandingkan metode konvensional dengan pendekatan Lean Construction.Hasilnya, pendekatan Lean membuat perencanaan proyek jauh lebih matang. Hambatan seperti izin kawasan hutan lindung, kondisi tanah yang belum pasti, hingga ancaman cuaca ekstrem dipetakan sejak awal. Semua pihak yang terlibat juga sudah sepaham sebelum pekerjaan memasuki tahap kritis. “Dengan Lean Construction, risiko dikelola secara lebih proaktif dan kolaboratif,” tulis tim peneliti dalam makalahnya.
BIM Bikin 5S Gampang Dipahami Pekerja
Riset lain yang tak kalah menarik adalah penerapan prinsip 5S (ringkas, rapi, resik, rawat, rajin) di proyek Gedung BRI Ragunan. Alih-alih hanya jadi poster di dinding, budaya kerja rapi ini diwujudkan dengan bantuan BIM. Gambaran digital dari BIM digunakan untuk membuat denah cetak, label zona, dan papan informasi di lapangan.Hasilnya, waktu pencarian material jadi lebih singkat, jarak perpindahan material berkurang, dan kasus material salah tempat menurun drastis. Studi ini membuktikan bahwa BIM bukan cuma alat desain, tapi juga bahasa visual yang menjembatani rencana digital dengan kebiasaan kerja harian para pekerja.
Algoritma dan Rantai Pasok
Dua riset lainnya menyasar efisiensi logistik dan rantai pasok. Tim Hutama Karya menguji algoritma machine learning seperti CatBoost, LightGBM, dan XGBoost untuk memprediksi performa logistik dan mengalokasikan sumber daya secara optimal. Pendekatan ini krusial untuk proyek berskala besar dengan banyak titik pekerjaan dan kebutuhan material yang dinamis.Sementara itu, satu riset lagi mengevaluasi kinerja rantai pasok proyek infrastruktur menggunakan kerangka SCOR 14.0. Kajian ini memberikan gambaran bagaimana material bisa mengalir lebih lancar dari pemasok ke lokasi proyek, mengurangi kemacetan dan pemborosan.
Konferensi ISARC–IGLC 2026 mengusung tema “Constructing the Future: Sustainable, Smart and Lean.” Forum ini mempertemukan dua bidang besar: otomatisasi dan robotika konstruksi dari ISARC, serta Lean Construction dari IGLC. Bagi Hutama Karya, keikutsertaan ini bukan sekadar ajang pamer riset, melainkan bukti bahwa tantangan proyek di Indonesia bisa menjadi laboratorium inovasi yang diakui dunia.