Pencarian

ASPEBINDO Gencar Kembangkan Bioenergi, Target Kolaborasi Lintas Sektor

Kamis, 27 Agustus 2026 • 18:02:31 WIB
ASPEBINDO Gencar Kembangkan Bioenergi, Target Kolaborasi Lintas Sektor
ASPEBINDO menargetkan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan bioenergi pada Bioenergy Summit 2026 di Jakarta, Rabu (26/8).

GORONTALO — Pengembangan energi terbarukan di Indonesia tak bisa berjalan sendiri. Butuh sinergi dari hulu ke hilir, mulai dari penyedia bahan baku, teknologi, hingga pasar. Kesadaran itulah yang mengemuka dalam Bioenergy Summit 2026 yang digelar ASPEBINDO di Jakarta, Rabu (26/8).

Ketua Umum ASPEBINDO, Anggawira, menegaskan pihaknya akan lebih fokus membangun jejaring agar seluruh pemangku kepentingan bisa tumbuh bersama. "ASPEBINDO akan lebih fokus mengembangkan jejaring untuk bagaimana bisa tumbuh bersama, apalagi kita memanfaatkan potensi yang dimiliki, khususnya di sektor energi baru terbarukan," ujarnya.

Bukan Sekadar Acara, tapi Butuh Tindak Lanjut Nyata

Forum yang berlangsung dalam tujuh sesi ini menghadirkan para praktisi untuk membedah berbagai aspek pengembangan bioenergi. Namun, Anggawira mengingatkan bahwa kesuksesan acara tidak diukur dari ramainya peserta, melainkan aksi setelahnya. "Yang paling penting adalah follow up setelah kompetisi dan acara ini," katanya.

Ia menilai, forum seperti ini adalah ruang untuk mempertemukan berbagai pihak sekaligus bertukar pengetahuan dan pengalaman. Dari sinilah diharapkan lahir kolaborasi konkret yang bisa dieksekusi.

Hulu Jadi PR Besar: Bahan Baku Bersinggungan dengan Pangan

Di balik optimisme itu, pengembangan bioetanol masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara terintegrasi. Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu, menyoroti tantangan paling mendasar ada di sisi hulu: potensi konflik antara kebutuhan bahan baku untuk energi dan pangan.

"Dari sisi hulu, salah satu tantangan utama adalah potensi persinggungan antara kebutuhan bahan baku untuk energi dan pangan. Pengembangan bioetanol membutuhkan bahan baku yang dalam beberapa kondisi juga berhubungan dengan kebutuhan pangan masyarakat," jelas Jisman.

Karena itu, diversifikasi bahan baku menjadi keniscayaan. Tanpa itu, peningkatan kebutuhan bahan bakar nabati (BBN) justru berisiko memicu alih fungsi lahan dan degradasi lingkungan. Standar produksi berkelanjutan pun menjadi prasyarat mutlak, bukan sekadar pelengkap.

Teknologi dan Infrastruktur: Dua Hambatan yang Menganga

Jisman menambahkan, tantangan berikutnya ada di aspek teknis dan operasional. Teknologi advanced biofuel dinilai belum seluruhnya mencapai skala komersial dan masih membutuhkan investasi besar. Kondisi ini menuntut riset komprehensif yang melibatkan akademisi dan pelaku industri.

Belum lagi soal infrastruktur. Fasilitas produksi, penyimpanan, distribusi, hingga blending belum tersedia memadai di seluruh wilayah. Kesenjangan ini bakal menjadi penghambat serius ketika produksi biofuel mulai ditingkatkan dalam skala besar.

Atas dasar itu, kolaborasi model pentahelix—pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media—menjadi kunci. Tujuannya agar pengembangan bioenergi tidak berjalan sektoral, melainkan terintegrasi dari riset hingga pemanfaatan.

Modal Besar dan Harga Bahan Baku yang Fluktuatif

Dari sisi komersial, tantangannya tak kalah berat. Investasi awal untuk membangun fasilitas produksi bioetanol membutuhkan modal signifikan. Di saat bersamaan, fluktuasi harga bahan baku, terutama molases, bisa menggerus margin dan kelayakan proyek.

"Karena itu, kepastian pasar menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem bioenergi. Pelaku usaha membutuhkan kepastian mengenai mandatori pemanfaatan biofuel agar investasi yang dikeluarkan memiliki prospek pasar yang jelas," ucap Jisman.

Ia menekankan, dukungan insentif seperti pembebasan cukai bahan bakar dan harmonisasi kebijakan dari hulu ke hilir juga diperlukan. Integrasi kebijakan ini penting agar tidak terjadi ketidaksinkronan antara kebijakan bahan baku, produksi, distribusi, hingga pemanfaatan energi terbarukan.

Tanpa kepastian itu, investor akan berpikir dua kali. Padahal, potensi bioenergi Indonesia sangat besar dan bisa menjadi salah satu pilar transisi energi nasional jika dikelola dengan benar.

Follow gorontalo24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tambang.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks