GORONTALO — Persaingan kendaraan elektrifikasi di Amerika Selatan memanas. Leapmotor, pabrikan asal China, memilih Argentina sebagai medan pertempuran baru melawan BYD. Berdasarkan laporan CarnewsChina pada Selasa (18/8), strategi yang diusung cukup berani: mengandalkan teknologi Extended Range Electric Vehicle (EREV) yang menggabungkan mesin bensin sebagai generator dan motor listrik sebagai penggerak utama.
Data semester pertama 2026 menunjukkan sekitar 10.800 unit kendaraan elektrifikasi—mencakup BEV, PHEV, dan EREV—terjual di Argentina. Dari angka tersebut, BYD diproyeksikan menguasai porsi dominan. Leapmotor datang dengan dua senjata andalan yang banderolnya beririsan langsung dengan lini produk BYD.
Dua Model, Satu Strategi: B10 dan C10 EREV
Leapmotor B10 menjadi entry point dengan harga 31.990 dolar AS. Crossover lima penumpang ini mengusung mesin bensin 1,5 liter yang berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai LFP berkapasitas 18,8 kWh. Dalam mode listrik murni, B10 diklaim mampu menempuh jarak hingga 95 km, sementara motor listriknya menyemburkan tenaga puncak 158 kW atau setara 212 hp.
Naik satu level, C10 ditawarkan mulai 35.500 dolar AS. Model ini membawa baterai LFP lebih besar, yakni 28,4 kWh, dengan jarak tempuh listrik hingga 170 km berdasarkan standar NEDC. Tenaga motor listriknya identik dengan B10, yaitu 158 kW.
Kedua model ini memakai arsitektur EREV yang berbeda dari hybrid konvensional. Mesin bensin tidak terhubung langsung ke roda—ia hanya bekerja sebagai pembangkit listrik saat baterai menipis. Konsep ini memberi keuntungan efisiensi di rute perkotaan yang sering macet, sekaligus menghilangkan range anxiety untuk perjalanan antar kota.
Keunggulan Layanan: Jaringan Stellantis Jadi Modal Penting
Aliansi Leapmotor dengan Stellantis menjadi pembeda utama. Untuk mempercepat penetrasi pasar Argentina, merek ini membuka 12 gerai penjualan dan 20 titik layanan purnajual. Yang lebih menarik, pemilik Leapmotor bisa melakukan perawatan dasar di lebih dari 300 jaringan layanan Stellantis yang sudah tersebar luas.
Kelebihan ini tidak bisa dianggap remeh. Salah satu hambatan terbesar pembeli kendaraan listrik di pasar berkembang adalah infrastruktur servis yang minim. Dengan meminjam ekosistem Stellantis, Leapmotor secara efektif memangkas risiko itu sejak hari pertama—sesuatu yang sulit ditandingi pendatang baru lainnya.
Yang Perlu Diperhatikan: Portofolio BYD Jauh Lebih Lengkap
Tantangan terbesar Leapmotor bukan soal teknologi, melainkan variasi produk. BYD menawarkan lini yang jauh lebih gemuk: Yuan Up DM-i, Song Pro DM-i, Shark, Yuan Pro EV, Seal U DM-i, hingga Dolphin Mini. Dari SUV hingga hatchback murah, BYD punya segmen yang lebih luas untuk menjaring konsumen dengan kebutuhan berbeda.
Harga B10 dan C10 yang beririsan langsung dengan sejumlah produk BYD membuat persaingan ini menarik untuk diikuti. Leapmotor tidak sekadar mencoba masuk pasar—mereka secara terang-terangan menggerus pangsa pasar pemain yang sudah menguasai hampir seluruh ekosistem EV di Negeri Tango tersebut.
Namun, perlu dicatat bahwa kedua model ini belum memiliki konfirmasi kehadiran resmi di Indonesia. Bagi konsumen Tanah Air yang penasaran dengan teknologi EREV Leapmotor, langkah Argentina ini bisa menjadi indikator awal bagaimana pabrikan tersebut menyusun strategi ekspansi global—termasuk kemungkinan masuk ke pasar Asia Tenggara yang juga digarap serius oleh BYD.