JAKARTA — Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memaparkan metode penyemaian dry ice merupakan teknik modifikasi atmosfer khusus. Teknik ini dirancang mengurangi konsentrasi polusi dan asap pekat tanpa bergantung pada ketersediaan awan hujan.
Sumatera Selatan menjadi daerah sasaran pertama uji coba inovasi teknologi terapan tersebut. Provinsi itu satu dari enam provinsi prioritas yang sedang bergelut dengan asap pekat dari lahan mineral gambut terbakar.
Mengapa Asap Karhutla Sulit Bergerak Naik
Dalam kondisi karhutla, asap pekat kerap terperangkap di lapisan bawah atmosfer akibat adanya lapisan inversi. Kondisi ini berbeda dengan atmosfer normal, di mana suhu udara semakin rendah pada lapisan yang lebih tinggi.
Lapisan inversi membuat atmosfer menjadi relatif stabil sehingga partikel asap sulit bergerak naik. BNPB menilai penyemaian dry ice dapat membantu melabilkan kondisi atmosfer tersebut.
Butiran dry ice berukuran sekitar tiga milimeter dengan titik dingin mencapai -75 derajat Celsius. Dengan bantuan bahan ini, asap karhutla yang terperangkap dapat terdorong bergerak naik dan menyebar luas.
Konsentrasi asap menurun dan jarak pandang di udara berangsur meningkat. Berton menyebut teknik ini memiliki karakteristik berbeda dari bahan garam atau Natrium Klorida (NaCl) yang umumnya berbentuk serbuk halus dan biasa dipakai untuk memicu curah hujan.
Dua Sorti Pesawat Cessna Caravan dari Bandara Raden Inten II
Untuk mendukung uji coba operasional, BNPB mengerahkan satu pesawat Cessna Caravan dengan nomor registrasi PK-SNP. Pesawat itu diterbangkan langsung dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung.
Pada hari pertama pelaksanaan, Kamis, tim telah menjalankan dua sorti penerbangan. Masing-masing sorti membawa bahan semai seberat 800 kilogram pada ketinggian sekitar 4.500 kaki.
Fokus penyemaian diarahkan di sekitar wilayah ring satu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Tujuannya mengurai gangguan mobilitas penerbangan di Sumatera Selatan.
Jarak Pandang Meningkat Empat Kali Lipat
Berdasarkan laporan sementara yang diterima BNPB, uji coba tersebut menunjukkan hasil positif berupa peningkatan jarak pandang. Jarak pandang yang semula sempat terpantau di kisaran 650 meter meningkat hingga mencapai 2.800 meter.
"Rangkaian uji coba OMC menggunakan dry ice ini dijadwalkan berlangsung hingga 18 Oktober 2026," kata Berton.
Setelah masa uji coba selesai, BNPB akan melakukan evaluasi menyeluruh serta koordinasi lanjutan bersama pihak-pihak terkait. Evaluasi ini untuk mempertimbangkan potensi penerapan metode serupa di wilayah terdampak karhutla lainnya.