GORONTALO — Perkemahan Pramuka CAKRA UNBITA 2026 tidak berhenti pada aktivitas mendirikan tenda dan mempererat persaudaraan. Dewan Racana UNBITA Gorontalo merancang kegiatan itu sebagai ruang pembentukan generasi muda yang tangguh menghadapi bencana, terampil melakukan pertolongan, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Sebanyak 35 peserta mengikuti perkemahan di kawasan Wisata Botumotolioluwo, Desa Longalo. Rinciannya, 25 mahasiswa UNBITA dan 10 siswa SMK. Tema yang diusung: "Membentuk Pramuka yang Tangguh, Tanggap Darurat, dan Berjiwa Kemanusiaan Melalui Integrasi Kepramukaan dan Kesiapsiagaan Bencana".
Dibuka Kamabigus, Disiplin Jadi Bekal Utama
Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus) UNBITA, Dr. Ellys Rachman, S.Sos., M.Si., membuka kegiatan tersebut secara resmi. Ia menegaskan pendidikan kepramukaan harus melahirkan generasi yang disiplin, mandiri, dan siap mengambil peran saat masyarakat menghadapi keadaan darurat.
"Saya berharap CAKRA UNBITA 2026 menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan siswa untuk membangun kedisiplinan, kepedulian sosial, serta keberanian mengambil peran ketika masyarakat menghadapi situasi darurat. Keterampilan yang diperoleh harus menjadi bekal untuk membantu sesama, bukan sekadar pengalaman selama berkemah," ungkap Ellys.
Materi SAR dari Basarnas, Tindak Lanjut MoU LLDIKTI XVI
Agenda utama perkemahan ialah pembekalan materi dasar SAR yang melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas B Gorontalo. Pelatihan itu merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara LLDIKTI Wilayah XVI dan Basarnas Kelas B Gorontalo.
Peserta diperkenalkan pada dasar-dasar kesiapsiagaan, prosedur pertolongan, serta teknik evakuasi dalam situasi darurat. Materi menekankan ketepatan tindakan, kedisiplinan, dan kerja sama tim. Satu prinsip yang ditanamkan: setiap upaya pertolongan wajib mengutamakan keselamatan diri dan orang lain.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo, Heriyanto, S.Adm., menilai pengenalan SAR kepada generasi muda sebagai langkah penting membangun budaya sadar bencana sejak dini.
"Pembekalan SAR bagi anggota Pramuka merupakan langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran tentang keselamatan, kesiapsiagaan, dan tanggung jawab terhadap sesama. Peserta perlu memahami bahwa tindakan pertolongan harus dilakukan secara terukur, sesuai kemampuan, dan dengan memperhatikan keselamatan diri maupun orang lain," ujar Heriyanto.
Edukasi Rumah Tahan Gempa dalam Agenda PkM
Pada Sabtu (17/10/2026), peserta mengikuti agenda Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa edukasi konstruksi rumah tahan gempa dan mitigasi bencana. Pembekalan ini menyasar kemampuan mengenali potensi ancaman, memahami prinsip dasar bangunan yang lebih aman, serta mengetahui langkah antisipasi sebelum bencana terjadi.
Ellys menilai mahasiswa perlu mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan masyarakat. Menurutnya, pengabdian tidak cukup diwujudkan lewat kegiatan seremonial, tetapi harus menghadirkan pengetahuan yang bermanfaat dan dapat diterapkan sehari-hari.
"Mahasiswa harus hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui edukasi mengenai rumah tahan gempa dan mitigasi bencana, peserta belajar menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan warga. Harapannya, pengalaman ini mendorong mereka untuk terus mengembangkan kepedulian dan berkontribusi sesuai kapasitasnya di lingkungan masing-masing," tuturnya.
Eco-Scout Action: Merawat Detak Bumi di Botumotolioluwo
Dimensi kemanusiaan berjalan beriringan dengan kepedulian ekologis melalui materi "Eco-Scout Action: Bakti Nyata Merawat Detak Bumi". Berlokasi di kawasan wisata alam Botumotolioluwo, peserta diajak memaknai lingkungan bukan sekadar tempat berkemah, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama.
Perpaduan pendidikan kebencanaan dan aksi lingkungan menegaskan bahwa ketangguhan tidak hanya diukur dari kemampuan menghadapi keadaan darurat. Generasi muda dinilai perlu memiliki kesadaran mencegah risiko, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menumbuhkan perilaku bertanggung jawab terhadap alam.
Heriyanto berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti ketika perkemahan berakhir. Pemahaman soal keselamatan, evakuasi, dan mitigasi bencana perlu diteruskan kepada lingkungan sekitar dengan tetap mengacu pada prosedur yang benar.
"Generasi muda memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar bencana, dan kegiatan seperti ini dapat menjadi a